AJI Bandung Tolak Amplop untuk Wartawan

Posted by Bandung Aktual on May 4, 2014 | Follow @bandungaktual

Tolak Amplop untuk Wartawan
ALIANSI Jurnalis Independen (AJI) Bandung mengecam dan menolak amplop serta suap terkait kerja jurnalistik di lapangan. AJI Bandung mengimbau kepada para pembuat kebijakan, lembaga, dan instansi pemerintahan untuk menghentikan memberikan amplop atau suap pada wartawan.

"Pemberian amplop pada wartawan itu akan membuat wartawan tidak professional. Media atau jurnalis harusnya netral, berdiri di semua kepentingan etnis, suku, agama, ras atau golongan apa pun,” ujar Ketua AJI Bandung Adi Marsiela, usai menggelar aksi peringatan Hari Pers Dunia di Gedung Sate, Bandung, Sabtu, 3 Mei 2014.

Adi mengatakan imbalan atau amplop merupakan salah satu belenggu kebebasan pers. Karena berita bukanlah pesanan pihak tertentu dan bukan komoditas yang diperjualbelikan. Saat ini, AJI Bandung tengah merancang bentuk penolakan amplop terhadap wartawan pada instansi pemerintahan di Kota Bandung secara resmi. (Tempo.co).

Kita mendukung penuh kecaman dan penolakan AJI tentang amplop ini. Wartawan yang menerima amplop atau "uang suap" dikenal sebagai "wartawan bodrex". Kalangan wartawan abal-abal yang dikenal juga sebagai wartawan koran kuning, wartawan tanpa suratkabar (WTS), muncul tanpa berita (muntaber), bahkan bukan saja menerima, tapi sering meminta dan kadang memaksa minta duit kepada kalangan instansi atau panitia sebuah acara.

Wartawan bodrex yang cari duit dengan menyalahgunakan profesi wartawan itu, bahkan disebut juga "tupal" atau "tukang palak". Kabarnya, di daerah banyak kepala dinas yang "ngumpet" bahkan memilih tidak ada di ruang kerja, ketika para "tupal" itu hadir di kantor mereka.

Wartawan profesional pasti menaati kode etik jurnalistik atau kode etik profesi. Salah satunya, tidak menerima suap atau menyalahgunakan profesi.

Wartawan memang sosok menakutkan bagi sebagian kalangan. Hal itu karena besarnya pengaruh pemberitaan sebuah media. Namun, wartawan profesional adalah mitra siapa pun karena wartawan pro berperan sebagai "mata dan telinga" publik.

Semoga AJI Bandung mampu merintis sekaligus mengikis hingga habis keberadaan wartawan bodrex alias wartawan abal-abal yang merugikan citra wartawan. 

Kalangan instansi pemerintan dan swasta, juga para pejabat, harus menghentikan kebiasaan memberikan amplop! Ingat, penyuap dan yang disuap dilaknat oleh Allah SWT! Uang suap = uang panas = uang haram = tidak berkah!

Wartawan bertugas mencari informasi penting bagi publik dan kebaikan bersama. Wartawan bukan pencari amplop.

Benar kata AJI Denpasar dalam sebuah spanduknya yang jadi ilustrasi tulisan ini: wartawan hanya butuh informasi, bukan amplop, karena amplopnya wartawan adalah gaji yang mereka terima dari perusahaan media tempat mereka bekerja. (editor/bandungaktual.com).*

» Hatur Nuhun sudah baca AJI Bandung Tolak Amplop untuk Wartawan

Previous
« Prev Post

0 Response to "AJI Bandung Tolak Amplop untuk Wartawan"