June 20, 2018

Ribuan Pendatang Baru Mengadu Nasib di Kota Bandung

Bandung Aktual | June 20, 2018

Ribuan Pendatang Baru Mengadu Nasib di Kota Bandung
TIAP usai lebaran, ribuan pendatang baru datang ke Kota Bandung untuk mengadu nasib. Hingga H+4 lebaran tahun ini saja, sekitar 16 ribu pendatang sudah masuk ke Kota Bandung.

Pemerintah Kota Bandung melalui Pejabat Sementara Wali Kota Bandung, Muhammad Solihin, mengimbau para pendatang tak mengadu nasib tanpa bekal keterampilan serta tempat tinggal yang jelas.

Dengan begitu, mereka akan terhindar dari risiko menjadi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

Solihin mengatakan, Kota Kembang membutuhkan orang-orang yang kreatif dan bisa berkompetisi. 

"Pemudik jangan bawa orang yang tidak punya keahlian apa-apa dan jangan mencari pekerjaan di Kota Bandung kalau tidak punya keahlian," ujarnya.

Solihin tak ingin pendatang hidup telantar di Bandung lantaran kesulitan mendapatkan mata pencarian dan tempat bernaung. Selain akan menyusahkan diri sendiri, mereka juga akan menjadi beban bagi masyarakat Kota Bandung.

Ada dua kemungkinan yang kemudian muncul dari pendatang tanpa keahlian. Sholihin menyebut kalau tidak jadi korban, mereka akan jadi pelaku kejahatan. "Saya khawatir terjadi dua-duanya," katanya.

Solihin menyarankan agar warga daerah yang tidak memiliki persiapan matang untuk bekerja di Kota Bandung untuk membangun di wilayahnya masing-masing. Terlebih, pemerintah pusat dan provinsi telah menyalurkan banyak dana dan bantuan ke daerah.

Menurut Solihin, pihaknya akan mengerahkan ratusan petugas dari Dinas Sosial Kota Bandung, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan dalam melakukan penjangkauan terhadap PMKS jalanan.

Menurut Kepala Disdukcapil Kota Bandung Popong W Nuraeni, ada 6 kecamatan yang rawan pendatang yang tidak melaporkan identitasnya.

Keenam kecamatan itu Kiaracondong, Coblong, Cibeunying Kidul, Babakan Ciparay, Sukasari, dan Bandung Kulon. "Daerah itu menjdi tujuan pendatang karena banyak kos-kosan di sana," ujar Popong.

Menurut Popong, pendatang tersebut biasanya berdagang menjadi PKL, bekerja di sektor informal dan ada yang bersekolah atau menjadi mahasiswa. Oleh karena itu, Disdukcapil rutin menggelar razia identitas kependudukan ke kost-kostan, apartemen dan rumah susun. "Mereka kan harus memiliki surat keterangan tinggal sementara," katanya.

"Tren pendatang yang ke Bandung, setiap tahun memang meningkat. Rata-rata, setiap tahun selisih antara penduduk yang datang dan keluar Bandung ada 2 ribu orang, lebih banyak pendatangnya," katanya. (antara/republika).*

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon